Kamis, 27 Oktober 2011

Pemuda Dan Cita-Cita Besar

Pemuda adalah pemilik masa depan. Seperti apa nasib bangsa dan negara ini di masa depan, sebagian atau sepenuhnya terletak di tangan pemuda. Tetapi, ada sesuatu yang mengusik mimpi-mimpi masa depan kita: seberapa pemuda yang masih berfikir tentang masa depan bangsa dan negara?
Tetapi zaman sudah berubah. Pemuda jaman sekarang sudah tidak sama dengan pemuda jaman sumpah pemuda ataupun jaman revolusi. Dalam derap modernisasi seperti sekarang, pemuda yang berfikir tentang bangsa dan negara bisa dianggap kolot alias ketinggalan jaman.
Kita hidup dalam dunia yang tak mau memberi aternatif. Kita dipaksa tunduk dan mengikuti disiplin pasar. Solidaritas horizontal, apalagi kebangsaan, sudah hancur berkeping-keping. Orang makin disibukkan untuk berfikir tentang dirinya sendiri atau kelompoknya. Dan, kadang-kadang solidaritas pun akan diukur dengan “harga” dan preferensi pasar.
Kita hidup dalam dunia yang mengubur mimpi-mimpi besar. Mereka membanjiri kita dengan keungunggulan indivualisme dan nihilisme. Seolah individualisme dan nihilitas sudah menjadi trend “kegaulan”. Orang begitu mudah mengeluarkan sumpah serapah kepada negara, tetapi membiarkan korporasi menaklukkan rakyat banyak.
Kalaupun ada yang bermimpi besar, maka itupun tidak jauh dari preferensi pasar; terkenal, selebritis, dan lain-lain. Hampir tidak ada lagi orang yang berani mengambil resiko, apalagi rela mati, hanya demi sebuah isme-isme. Tidak ada lagi yang mau mengikut seperti pemilik makam pahlawan tak dikenal, yang rela terbujur mati di makam-makam pahlawan tanpa dikenal nama, tanggal, dan tempat kelahirannya.
Pada bulan Juli 1948, saat republik muda ini sedang dikepung dan diserang oleh kolonialis, Bung Karno menyampaikan sebuah pidato yang sangat menggugah di hadapan pemuda-pemuda Aceh. Bung Karno mengatakan, “pemuda yang tidak bercita-cita bukanlah pemuda. Pemuda-pemudi yang tidak bercita-cita sudah mati sebelum mati.”
Anda bisa tidak setuju dengan Bung Karno. Akan tetapi, tanpa kehadiran pemuda bercita-cita seperti Soekarno, Hatta, Amir Sjarifuddin, Sjahrir, dan banyak lagi, apa mungkin bangsa Indonesia bisa menikmati sedikit kemerdekaan seperti sekarang. Jika tidak ada pemuda yang bercita-cita besar, apa mungkin ada bangsa dan negara yang bernama “Indonesia”.
Cita-cita besarlah yang menggerakkan seseorang, atau bahkan sebuah bangsa, untuk melangkah dengan bersemangat menyambut masa depan. Seorang Soekarno bisa saja mati dan fisiknya tidak ada lagi, tetapi cita-cita besarnya akan terus berkobar dan membakar dada orang-orang yang sejalan dengan cita-citanya.
Para pemuda di tahun 1928 telah mengikrarkan sebuah cita-cita: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Tetapi, seperti dikatakan Bung Karno, ikrar  “satu bahasa, bangsa, dan tanah air” bukanlah tujuan akhir. Ia hanya sebuah jembatan menuju cita-cita yang lebih besar: masyakat adil dan makmur.
Oleh karena itu, sehubungan dengan krisis berat yang melanda bangsa saat ini, sudah saatnya para pemuda yang bercita-cita besar untuk tampil kedepan dan memperjuangkan kembali agar bangsa ini berjalan mengikuti relnya: cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar