Sabtu, 01 Oktober 2011

Mengapa Tidak ke Lampung?

Ada satu pertanyaan yang menghinggapi pikiran saya sepulang melancong dari Lampung: mengapa orang Jakarta belum sampai pergi berbondong-bondong ke sana?

Sepanjang sejarah, penduduk Jakarta sudah terus-menerus memperluas ruang jelajah mereka mencari pantai (naar strand) dan dataran tinggi (naar boven). Awalnya mereka puas kalau sudah sampai ke Bogor atau Puncak. Lalu mereka menjelajahi Cipanas, Lembang, dan berlanjut ke Bandung – yang kini rutin jadi tujuan akhir pekan.

Dalam hal mencari deburan ombak, orang Jakarta dulu sudah merasa mewah kalau sampai di Sampur (Zandvoort) dan Cilincing. Kemudian mereka ke Anyer dan Carita yang mendadak bertabur hotel dan vila di awal 1990-an. Suatu lompatan terjadi ketika mereka bahkan pergi ke Tanjung Lesung, yang sudah berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ujung Kulon.

Sebenarnya memang tidak tepat menyebut semua pelancong yang terus menerus melebarkan ruang jelajahnya itu orang Jakarta, karena ada gejala lain yang sejalan. Lebih banyak orang kini tinggal di daerah sekitar Jakarta, meski sebagian bekerja di Jakarta. Mereka juga naar boven hingga Bandung dan naar strand hingga Tanjung Lesung.

Tapi, mengapa tidak sekalian menyeberang ke Lampung? Di sana pantai landai berpasir putih menunggu. Banyak orang menjual buah-buahan (durian!), dan ada alam Sumatera dengan ragam spesies fauna serta flora yang berbeda. Juga seni tenun.

Orang Jakarta (atau Jabodetabek) tidak sampai ke Lampung mungkin dengan alasan yang sama mereka tidak pergi ke Kepulauan Seribu – yang juga sungguh indah. Ada pantai pasir putih, ada bunga karang, ada perairan dangkal untuk berenang atau sekedar bermain. Ada juga sumur dan kilang minyak di Pulau Pabelokan.

Mereka tidak ke Lampung atau Kepulauan Seribu karena bepergian ke Bali lebih mudah dan menyenangkan. Dan meski lebih jauh, Bali menyediakan lebih banyak fasilitas serta pengalaman yang asyik.

Sedangkan untuk ke Kepulauan Seribu, orang harus naik kapal kayu dari dermaga berperairan hitam berbau busuk menyengat. Apalagi kalau ke Lampung. Orang harus mengantre naik feri yang jorok.

Mungkinkah kendala itu bisa teratasi dalam waktu dekat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar