Sabtu, 01 Oktober 2011

Rawat Demonstran, 20 Tenaga Medis Bahrain Divonis Penjara oleh Pengadilan Militer



MANAMA - Pengadilan militer Bahrain telah menahan 20 dokter, perawat dan tenaga paramedik lain yang telah merawat para demonstran terluka dalam unjuk rasa pro demokrasi awa tahun ini. Mereka diganjar 15 tahun penjara. Para tahanan itu mengatakan mereka disiksa selama interogasi demi menyatakan pengakuan bersalah palsu.
Hukuman keras yang dijatuhkan hakim militer sepertinya akan membuat marah mayoritas Muslim Syiah di Bahrain dan mengugurkan harapan terjadi dialog damai antara mereka dengan dinasti al Khalifa Suni.
Sikap pengadilan itu mengisyaratkan bahwa aliran garis keras dalam keluarga kerajaan telah mengambil alih kendali sejak Raja Hamad bin Isa al Khalifa telah membuat sejumlah pernyataan konsiliasi yang diikuti oleh peningkatan tindak represi.
Sebuah pernyataan dari kantor Otoritas Informasi ditujukan pada "Doktor Bahrain" menuduh mereka telah melakukan Plot untuk Menggulingkan Pemerintah. Pernyataan itu mengutip Penuntut Militer, Kolonel Yussef Rashid Flaife, yang mengatakan 13 profesional medis telah divonis 15 tahun penjara, dua orang untuk hukuman 10 tahun penjara dan lima lagi diganjar 5 tahun penara.
Dalam pernyataan disebut pula bahwa para dokter, selain melakukan plot revolusi, juga didakwa dengan kepemilikan senjata dan amunisi, mengambil alih paksa rumah sakit Salmaniya dan personelnya, mencuri perlatan medis dan merekayasa cerita untuk menggangu keamanan publik.
Padahal mereka sama sekali tak menunjukkan tanda atau sikap revolusioner. Tak ada satupun terdakwa yang hadir di sidang untuk mendengarkan pembacaan vonis. Pembacaan putusan pengadilan hanya didatangi oleh kuasa hukum mereka dan keluarga. Terdakwa juga mengatakan panel hakim militer menolak mendengar dugaan bahwa mereka disiksa di penjara.
Pemerintah berkata para dokter itu dapat mengajukan banding ke pengadilan tertinggi Bahrain untuk meminta pembatalan hukuman mereka.
Para staf medis tersebut adalah karyawan di Kompleks Medikal Salmaniya yang berlokasi  di ibu kota, Manama. Mereka merawat para demonstran terluka dalam bentrok dengan aparat setelah unjuk rasa demokrasi digelar pada 14 Februari. Setelah tindakan represif dari pemerintah pada pertengahan Maret berhasil mematahkan perlawanan unjuk rasa, para dokter dan perawat dituduh merencanakan dan membangkitkan liga pasukan bersenjata bersama Iran.
Kelompok hak asasi manusia menggambarkan vonis itu sebagai 'pengkhianatan keadilan'. Philip Luther dari Amnesty Internasional berkomentar, "Ini benar-benar dakwaan konyol terhadap profesi sipil yang bekerja menyelamatkan hidup."
Para dokter yang ditahan mengatakan mereka dipukuli, kepala mereka ditutupi dan dilarang tidur untuk membuat mereka mengatakan telah sengaja membuat pasien meninggal. Petugas juga memaksa dokter melebihkan luka dengan menuangkan darah di atas para pasien cedera.

Mengapa Tidak ke Lampung?

Ada satu pertanyaan yang menghinggapi pikiran saya sepulang melancong dari Lampung: mengapa orang Jakarta belum sampai pergi berbondong-bondong ke sana?

Sepanjang sejarah, penduduk Jakarta sudah terus-menerus memperluas ruang jelajah mereka mencari pantai (naar strand) dan dataran tinggi (naar boven). Awalnya mereka puas kalau sudah sampai ke Bogor atau Puncak. Lalu mereka menjelajahi Cipanas, Lembang, dan berlanjut ke Bandung – yang kini rutin jadi tujuan akhir pekan.

Dalam hal mencari deburan ombak, orang Jakarta dulu sudah merasa mewah kalau sampai di Sampur (Zandvoort) dan Cilincing. Kemudian mereka ke Anyer dan Carita yang mendadak bertabur hotel dan vila di awal 1990-an. Suatu lompatan terjadi ketika mereka bahkan pergi ke Tanjung Lesung, yang sudah berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ujung Kulon.

Sebenarnya memang tidak tepat menyebut semua pelancong yang terus menerus melebarkan ruang jelajahnya itu orang Jakarta, karena ada gejala lain yang sejalan. Lebih banyak orang kini tinggal di daerah sekitar Jakarta, meski sebagian bekerja di Jakarta. Mereka juga naar boven hingga Bandung dan naar strand hingga Tanjung Lesung.

Tapi, mengapa tidak sekalian menyeberang ke Lampung? Di sana pantai landai berpasir putih menunggu. Banyak orang menjual buah-buahan (durian!), dan ada alam Sumatera dengan ragam spesies fauna serta flora yang berbeda. Juga seni tenun.

Orang Jakarta (atau Jabodetabek) tidak sampai ke Lampung mungkin dengan alasan yang sama mereka tidak pergi ke Kepulauan Seribu – yang juga sungguh indah. Ada pantai pasir putih, ada bunga karang, ada perairan dangkal untuk berenang atau sekedar bermain. Ada juga sumur dan kilang minyak di Pulau Pabelokan.

Mereka tidak ke Lampung atau Kepulauan Seribu karena bepergian ke Bali lebih mudah dan menyenangkan. Dan meski lebih jauh, Bali menyediakan lebih banyak fasilitas serta pengalaman yang asyik.

Sedangkan untuk ke Kepulauan Seribu, orang harus naik kapal kayu dari dermaga berperairan hitam berbau busuk menyengat. Apalagi kalau ke Lampung. Orang harus mengantre naik feri yang jorok.

Mungkinkah kendala itu bisa teratasi dalam waktu dekat?

Tahun 2035 Afrika Selatan Kehabisan Air

Artinya, pada tahun 2035 permintaan atas air bersih akan melampaui jumlah air bersih yang bisa dipasok hingga 17 persen. Apalagi, menurut data pertumbuhan penduduk, populasi di kawasan Gauteng, provinsi paling kecil di Afrika Selatan, akan bertambah dari 10,5 juta jiwa pada 2009 menjadi 28 juta jiwa di tahun 2055 mendatang.
Melihat tren seperti ini, Mayathula-Khoza menyebutkan, mereka tidak akan memiliki jumlah persediaan makanan dan air bersih yang cukup untuk mendukung kelangsungan hidup populasi yang tumbuh pesat tersebut.
Menurut Mayathula-Khoza, pemerintah Provinsi Gauteng sendiri telah berkomitmen untuk mengeksplorasi penggunaan bio teknologi untuk memproduksi makanan dan menciptakan lapangan kerja. Dan strategi yang diluncurkan pada 2008 lalu itu sudah berjalan.
Meski ada kemajuan dari sisi teknologi yang ramah lingkungan, ancaman lain datang dari iklim ekonomi dan politik yang akan menentukan apakah langkah-langkah berkesinambungan akan diterapkan di sana.(NatGeo/ADO)

Populasi Koala Turun 80 Persen

Koala, satwa nasional dan khas Australia, saat ini berada dalam situasi terancam. Telah dilaporkan penurunan populasi koala sebanyak 80 persen pada beberapa area. Lewat suatu penyelidikan panjang oleh badan parlemen, dikeluarkan pernyataan resmi bahwa spesies yang sudah menjadi ikon bagi Australia tersebut jumlahnya sudah menurun drastis.
Degradasi kualitas habitat tempat tinggal mereka adalah salah satu penyebab utama. Masih banyak faktor lain hilangnya habitat koala, yakni pembaharuan tata kota, wabah penyakit, polusi kendaraan bermotor, pertambangan, banjir, penebangan, kebakaran semak belukar pada lahan, dan serangan anjing.
Cheyne Flanagan, supervisor di Port Macquarie, New South Wales, Australia, mengatakan status koala terindikasi cukup serius. "Akibat di seluruh negeri, di mana koala hidup, di situlah pula orang ingin hidup," ucapnya. Oleh sebab itu, pemerintah federal Australia diharapkan untuk memberikan pengumuman sebelum akhir tahun, di mana koala perlu dimasukkan ke dalam daftar spesies yang terancam punah.(NatGeo/ADO)

Perusahaan Malaysia Bantai Orangutan Kalimantan

Keberadaan orangutan di Kalimantan Timur terancam. Mereka terus dibantai, sebagai dampak dari pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA Kaltim) dan Centre for Orangutan Protection (COP) telah mengevakuasi sedikitnya empat orangutan dari Muara Kaman, di sekitaran kawasan konsesi PT Khaleda, anak perusahaan Metro Kajang Holdings Berhad Malaysia dan PT Anugerah?Urea Sakti.
Juru kampanye COP Hardi Baktiantoro, mengatakan puluhan ekor orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) tewas mengenaskan di area perkebunan kelapa sawit di sekitaran Kutai Kartanegara. Hardi menuding, meski para pemburu bayaran itu mengaku telah membunuh banyak induk orangutan dan para pekerja mengakui perbuatan menyebarkan pisang yang sudah disemprot furadan untuk meracuni orangutan.
Sayangnya hingga hari ini, polisi tidak juga menetapkan seorang pun jadi tersangka dan tidak ada yang dipenjara. "Ini mengecewakan dan membahayakan bagi kelangsungan hidup orangutan," ujar Hardi dalam siaran pers yang diterima Republika.
Situasi yang sama terjadi di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur. Pada 26 Juli 2011, BKSDA dan COP terpaksa mengevakuasi dua orangutan. Satu induk orangutan diidentifikasikan dibunuh para pekerja sawit Makin Group. Dikatakan Hardi, ketika kuburannya orangutan dibongkar untuk mengetahui penyebab kematiannya.
Hasil identifikasi menyatakan, mayat orangutan tersebut babak belur seperti terkena pukulan yang dilakukan berulangkali, kedua pergelangan tangannya luka dan jarinya putus.
Adapun di Kalimantan Tengah, COP mengidentifikasi satu tengkorak orangutan di sekitaran areal konsesi PT TASK dan mengevakuasi tiga anak orangutan yang ditangkap pekerja setempat. "COP juga menemukan empat tengkorak orangutan di areal konsesi Wilmar Group pada 20 Agustus 2011."
Hardi menilai kematian puluhan orangutan bukan terjadi karena konflik manusia dengan jenis binatang primata tersebut, melainkan upaya genocide (pembunuhan massal) kelompok tertentu yang rakus untuk meraih keuntungan pribadi. Pihaknya menyentil pemerintah yang harusnya berani melihat kenyataan bahwa polisi tidak membuat kemajuan apapun untuk mencegah kepunahan orangutan di Kalimantan.